5 Penyebab Mengapa Ahok Kalah Pada Putaran Kedua Pilkada DKI Jakarta
loading...
Jaditenar.com - Mungkin Anda semua sudah mengetahui bahwa Pilkada putaran kedua DKI Jakarta yang berlangsung pada hari ini dimenangkan oleh pasangan Calon Gubernur Anies-Sandi berdasarkan hasil quick count atau hitung cepat. Walaupun KPU belum melakukan penghitungan dan mengeluarkan hasil real count tetapi seperti yang sudah-sudah, hampir 100 persen pasangan yang menang menurut quick count juga pasti akan menang ketika real count nantinya.
Jauh hari sebelum pemilihan pada putaran kedua, sebenarnya pasangan petahana sudah diprediksi oleh sejumlah lembaga survei akan kalah. Meskipun Ahok-Djarot memenangkan Pilkada pada pada putaran pertama tetapi pada putaran kedua ini akan sangat berbeda situasinya.
Lalu, apa sebenarnya penyebab petahana kalah pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022? Peneliti dari lembaga survei sekaligus konsultan politik LSI Denny JA, Adjie Alfaraby dan Ardian Sopa pernah membeberkan sebelumnya.
Berikut lima penyebab kekalahan pasangan petahana (incumbent) ini berdasarkan hasil riset LSI Denny JA yang dirangkum Tribun-Timur:
1. Kesamaan Profil Pemilih
Pada putaran pertama pasangan Ahok-Djarot bisa memenangkan pilkada DKI karena pada saat itu para pendukung Anies-Sandi masih terpecah. Namun pada putaran kedua ini, semua pendukung Paslon nomor urut satu Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni yang kalah pada putaran pertama lebih banyak mengalihkan dukungan kepada pasangan Anies dan Sandiaga. Hal ini didasari kesamaan profil pemilih.
2. Kebijakan Tak Pro Rakyat
Kesalahan kedua mungkin karena kebijakan Ahok yang dianggap kurang pro terhadap rakyat. Salah satu kebijakan Ahok yang mengundang banyak kontroversi adalah ketika dirinya mengeluarkan kebijakan penertiban kawasan pemukiman dan reklamasi di pantai Jakarta Utara.
3. Sentimen Anti-Ahok
Faktor sentimen anti-Ahok karena kapitalisasi isu agama dan primordial. Ahok dianggap tak pas untuk memimpin pemerintahan DKI Jakarta karena bukan pemeluk agama yang mayoritas dipeluk warga DKI Jakarta.
Berdasarkan asil riset LSI Denny JA, sekitar 40 persen pemilih yang beragama Islam di DKI Jakarta tidak bersedia dipimpin oleh Ahok yang non-Muslim. Mereka berupaya keras agar Ahok kalah dan tidak memimpin lagi DKI Jakarta. Selain itu, dia juga berasal dari kelompok etnis minoritas.
4. Kasar dan Arogan
Suka ngomong ceplas-ceplos tanpa kontrol sehingga membuat Ia dikenal sebagai orang yang kasar serta arogan. Puncaknya, ketika dia blunder soal ayat suci Alquran.
Belum lagi sikapnya yang dinilai tidak konsisten, suatu ketika mencerca partai politik dan hanya ingin maju lewat jalur independen. Namun, selanjutnya ia berjuang mencari dukungan partai politik.
5. Kompetitor Baru
Hadirnya kompetitor baru yang menjadikan pemilih memiliki alternatif dalam memilih pemimpin DKI Jakarta. Pasangan Anies dan Sandiaga, serta pasangan Agus dan Sylviana menjadi alternatif pemilih yang pro maupun kontra Ahok.
Kira-kira bagaimana menurut pendapat Anda ? selain alasan diatas, menurut pendapat Anda apalagi penyebab-penyebab yang membuat Ahok kalah didalam hitung cepat pilkada DKi Jakarta putaran kedua ini.
Next Page
loading...
loading...



0 Response to "5 Penyebab Mengapa Ahok Kalah Pada Putaran Kedua Pilkada DKI Jakarta"
Posting Komentar